Wednesday, January 30, 2008

The Man

-------------------------------------------------------------------

Ada seorang kenalan aku yang satu ketika dulu boleh dikatakan 'grunge'.

Atau rasanya perkataan yang lebih tepat mungkin 'non-conformist'. Rambut di simpan panjang, seluar samada jeans atau seluar pendek, dipadankan dengan t-shirt 'round neck', kolar-kolar tak main.

Setelah beberapa lama tak berjumpa, aku dan seorang lagi rakan bertembung dengan dia. Kami pergi ke kedai dan minum-minum sambil 'catch-up' hal masing-masing.

Gayanya sudah berlainan sekarang, rambut pendek dan kemas, baju kemeja lengan pendek berkolar, berseluar 'slack'. Cara bercakap pun sudah tenang dan kurang elemen-elemen 'rebellious'. Hobi dia sekarang adalah membaca novel. Aku ketawa dan kata kepada dia.

"Haha! Kau dah kalah! Kau dah dikalahkan......"

Otak aku bergerak ligat mencari perkataan, beberapa pilihan timbul...sistem...mesin...tak cukup bagus.

"The Man! Kau dah kalah dengan The Man! Hahaha!"

Sambung rakanku yang seorang lagi.
Kami ketawa beramai-ramai.

---------------------------------------------------------------------

Undur beberapa tahun lagi kebelakang, ada seorang lagi rakan yang pernah kata kepada aku dengan penuh semangat "F**k the corporate world!", aku tak salahkan dia, pada ketika itu dia memang di dalam kesusahan yang menimpa secara tak langsung akibat dari struktur dunia korporat.

Sekarang? Oh, dia sedang berada di dalam kubikelnya, bekerja untuk sebuah syarikat korporat yang besar. Aku boleh bayangkan wajahnya sedang tersengih sekarang.

------------------------------------------------------------------------

Biasalah tu, manusia memang sifatnya berubah, dan aku pun tidak mempersoalkan tindakan kenalan-kenalan aku. Good for them, mereka nampak lebih bahagia sekarang. If you guys are happy, I'm happy.

Tapi macam mana pun, kalian telah kalah dengan The Man! Haha

p/s: Hal ini juga adalah antara sebab aku membaca Semusim Di Neraka, kerana pada pendapat aku, AKAB adalah antara orang-orang di luar sana yang bangkit cuba untuk melawan The Man. I wish you luck.

7 comments:

Anonymous said...

aku dalam proses menjadi the man jugak....percaturan dunia ni....pikir a few steps ahead...sampai bila?....aku di caturkan oleh ibubapa untuk menjadi idaman mereka...aku redha...tiada yang lebih baik dari melihat aku menjadi the man impian mereka....lagi 4 taun...owh life kenapa aku sangat fobia dengan masa?....nak extend 20 taun lagi boleh?

LuciusMaximus said...

we were all idealist at the beginning, but realist in the end

47 said...

Erm:
----
You can't possibly become The Man as The Man that I'm referring to here is an entirely different thing. The Man here is not even a real man, more of a ...system? or maybe the brain behind the machination of our society.


Lucius Maximus:
--------------
Quite right. I have to agree here, it's a natural progression methinks.

thinker bell said...

Lucius: got to agree to that. hence, i salute those who could break that barrier, jump that obstacle, dodge that routine. i am one caught in reality.

47: hi. long time no see. :D

Anonymous said...

Very true Lucius. Some people just take a little longer than others to realize that fact. Ain't nothing wrong with that. Hope that when the 'end' comes it's not too late yet.

47 said...

Thinkerbell:
-----------
Hi, you can always see me here ;)


Hali Munan:
----------
Quite right mister, quite right. We can't beat The Man entirely. In fact, to proceed in life, we have to cooperate with The Man.

Just, please.. do not give in to The Man's EVERY wish for a time will come when The Man shall ask for MORE ;)

Anonymous said...

47: Indeed. Being a realist doesn't mean you have to give in to his every whim. But in order to receive, you gotta give a little too.

Nevertheless, getting a fair trade out of a deal with the man is a tricky feat but I know people who've done it, so it's not impossible :)